Pada tahun 2020, saat pandemi COVID-19 mulai mengguncang dunia, saya menemukan diri saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar. Seperti banyak orang lainnya, saya beralih ke teknologi untuk bekerja, belajar, dan bersosialisasi. Dalam keadaan ini, saya mulai menjelajahi berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menjanjikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketakutan saya terhadap AI tumbuh dalam cara yang tidak terduga.
Saya ingat dengan jelas saat pertama kali menggunakan asisten virtual di smartphone saya—itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Saya mengucapkan perintah sederhana dan mendapatkan jawaban dalam sekejap. “Ini luar biasa!” pikir saya. Saat itu, rasa ingin tahu mendorong saya untuk menjelajahi lebih jauh kemampuan-kemampuan AI lainnya. Saya mulai membaca artikel tentang machine learning dan bagaimana perusahaan-perusahaan besar memanfaatkan data untuk meningkatkan produk mereka.
Tetapi satu kejadian spesifik menggugah refleksi lebih mendalam tentang apa artinya hidup dalam era AI. Suatu sore di bulan September 2021, sambil menunggu penerbangan di bandara lokal, aku bertemu dengan seorang pengembang perangkat lunak yang bekerja pada proyek berbasis AI yang ambisius. Kami terlibat dalam diskusi panjang tentang potensi teknologi ini—dan juga bahaya yang mengintainya.
Belum lama kemudian setelah pertemuan itu, berita tentang penggunaan AI di industri hingga kemampuan memprediksi perilaku manusia mulai muncul setiap hari. Dari saran produk hingga pengawasan sosial—semua tampak saling terkait dengan batasan etika yang semakin kabur.
Satu contoh nyata adalah ketika algoritma rekomendasi meracuni pengalaman pengguna platform media sosial dengan memperkuat bias dan polarisasi sosial. Rasanya sangat menegangkan mengetahui bahwa sebuah program bisa mempengaruhi opini jutaan orang hanya berdasarkan data historis tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Dari pengalaman ini, ada momen introspeksi: apakah kita benar-benar memahami konsekuensi dari alat-alat canggih ini? Apakah kita memberi kekuasaan terlalu banyak kepada algoritma tanpa menyadari bahayanya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tak kunjung reda di benak saya.
Saat ketidakpastian melanda pikiran sehari-hari saya mengenai masa depan teknologi ini, sebuah buku menarik perhatian saya: “The Age of Surveillance Capitalism” oleh Shoshana Zuboff. Buku itu mengupas tuntas dampak kecerdasan buatan dalam masyarakat modern dan bagaimana perusahaan-perusahaan besar beroperasi dengan cara-cara baru yang menantang nilai privasi kita sebagai individu.
Membaca buku tersebut menjadi titik balik bagi persepsi saya terhadap AI; dari sekadar alat canggih menjadi entitas kompleks yang harus kita awasi bersama-sama sebagai masyarakat. Ada perasaan campur aduk antara penyerahan pada inovasi teknologis sekaligus kewaspadaan akan potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Bulan lalu saat menghadiri sebuah seminar tentang etika AI di Universitas local—di mana para ahli berkumpul mendiskusikan solusi bagi tantangan-tantangan etis—saya mengalami pencerahan baru: ketakutan bukanlah halangan untuk maju; itu justru dapat menjadi pendorong inovasi ketika dikelola dengan baik.
Saya menyadari bahwa penting bagi setiap individu untuk terlibat aktif dalam dialog mengenai perkembangan teknologi ini alih-alih hanya menjadi konsumen pasif. Pengalaman-pengalaman pribadi membuat realisasi bahwa kolaborasi antara manusia dan mesin bisa menghasilkan hasil positif jika didasarkan pada prinsip-prinsip etik yang kuat dan kesadaran kolektif akan dampaknya terhadap kehidupan kita semua.
Akhirnya—entah bagaimana pun perjalanan berlanjut—saya tidak lagi melihat kecerdasan buatan semata-mata sebagai ancaman melainkan sebagai tantangan bagi setiap orang agar lebih bertanggung jawab atas tindakan mereka serta pilihan-pilihan teknologi yang mereka ambil ke depan.Buku-buku seperti itu dapat memperkaya wawasan kita.
Mendapatkan bonus tambahan saat pertama kali bergabung dengan sebuah platform hiburan daring sering kali menjadi…
Dalam kehidupan masyarakat tradisional, waktu luang selalu memiliki arti penting. Setelah menyelesaikan pekerjaan, orang-orang biasanya…
Selama ini banyak orang menganggap kalau main slot itu cuma soal pencet tombol dan berharap…
Memasak di rumah bukan hanya soal menyiapkan makanan, tetapi juga soal membangun kebiasaan yang berkelanjutan.…
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat menikmati hiburan. Aktivitas yang dahulu membutuhkan…
Memasuki tahun 2026, cara manusia mengonsumsi hiburan dan informasi telah berevolusi menjadi sebuah bentuk literasi…